Spread the love

Ina Rachman Rumusan & Penjelasan Tersangka – Dunia ibu, dunia perempuan merupakan dunia yang melawan dalam diam, dunia pemberontakan dalam sebuah kepatuhan, ditengah ingar bingar keramaian dan kekacauan hidup, dunia yang sendiri dalam sunyi dan riuhnya hari. Dunia yang menyerah dalam ketidakberdayaan dan ketakutan. Padahal, mandiri sudah siap direngkuhnya, di dunia semakin tua ini.

ina rachman tersangka qnet

Manusia pekerja domestik menjadi konotasi bagi perempuan kebanyakan. Bahkan, asosasi ini telah melekat pada perempuan bahkan sebelum lahir. Lantas menjadi adat dan budaya. Perempuan tidak bisa dinilai dalam kontribusi yang perannya tidak lebih dari sekadar kegiatan di dalam rumah.

Meski begitu, pada satu dekade terakhir ini, kiprah para perempuan pada ranah produktif telah menunjukkan eksistensinya. Bahkan, perempuan dapat dilibatkan secara aktif pada berbagai lini kehidupan. Mulai dari sosial, politik, ekonomi, hukum, dan asih banyak lagi. Bidang-bidang tersebut telah menjadikan perempuan sebagai SDM handalnya.

Meski begitu, masih banyak kiprah perempuan dalam ranah produktif yang dibelenggu. Mulai dari budaya, mitos, serta hal-hal yang jauh dari kata kompetensi yang sehat. Bahkan, dari sisi agama, masih banyak yang mengatakan bahwa perempuan pemimpin adalah menyalahi kodrat dan masih tabu.

Bahkan, perempuan dalam pekerjaan domestik adalah cara para laki-laki untuk melanggengkan ideologi patriarki. Perempuan yang bekerja di rumah tidak dianggap sebagai pekerjaan hanya karena tidak bisa menghasilkan uang dari sisi ekonomi. Di lain sisi, perempuan yang bekerja pun masih perlu melakukan dua hal sekaligus yakni produktif dan mengurus perkara domestik.

Menghasilkan Ekonomi Menambah Penghargaan Bagi Perempuan

Salah seorang advokat senior di KAI (Kongress Advokat Indonesia) yakni Ina Herawati Rachman SH, MH berbicara mengenai bagaimana seorang perempuan harus bersikap. Bagi Ina, perempuan harus mandiri dan tidak gengsi melakukan bisnis sendiri.

Sebab, perempuan yang bekerja dan berkarir akan lebih dihargai dan mendapatkan perlakukan yang lebih baik dan tidak banyak bergantung pada laki-laki.

Banyak perempuan yang akhirnya harus terkubur mati bersama dengan tumpukan beban dan membuatnya mengalami kematian perlahan-lahan.

Ina Rachman qnet mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki secara psikologis memang memiliki perbedaan. Dimana perempuan dapat melakukan pekerjaan multitasking. Hal ini harus dimanfaatkan untuk memeroleh pendapatan sendiri. Sebab, perempuan harus memegang ATM-nya sendiri, sehingga ia lebih merdeka secara finansial.

Seperti Ina yang lebih bebas dalam mengaktualisasi diri hingga akhirnya ia memiliki sebuah firma hukum sendiri. Bahkan, keahliannya di bidang hukum sudah membantu dalam berbagai bidang untuk negara ini.

Bahkan, dengan menjadi mandiri seperti Ina, ia bisa membantu lebih banyak orang dan perempuan yang mengalami ketidakadilan. Ia kerap memberikan bantuan hukum secara Cuma-Cuma untuk berbagai kasus hukum yang menimpa seseorang. Jika lebih banyak perempuan yang mandiri, maka akan lebih banyak orang yang akan terbantu di berbagai bidang kehidupan.

Ibu Rumah Tangga atau Mandiri Berkarir?

Meskipun sudah banyak orang yang membuka mata terhadap keberadaan perempuan, akan tetapi, masih banyak pula yang masih memperdebatkan perempuan yang mandiri atau jadi ibu rumah tangga.

Ada pihak yang menilai jika ibu rumah tangga murni adalah pekerjaan yang sangat mulia. Namun, ada juga pihak lain yang mengatakan ijazah yang tinggi tidak bisa diaplikasikan malah memilih jadi ibu rumah tangga.

Hal ini merupakan sebuah problematika perempuan sudah sejak lama. Perempuan selalu saja dihadapkan oleh persoalan peran kultural mengenai perempuan yang ideal padahal, saat ini perempuan ideal sudah bisa berkontribusi nyata untuk pembangunan.

Perempuan selalu mengalami konflik dalam pekerjaan. Status perempuan pun selalu memantik perdebatan yang menarik. Ada yang masih melanggengkan sikap bahwa perempuan sebaiknya di rumah dan bertanggung jawab penuh pada pendidikan, pengasuhan, dan juga berbagai urusan rumah tangga.

Di sisi yang lainnya juga ada yang menilai bahwa perempuan harus bekerja sebagai faktor tuntutan dan aktualisasi diri sebagai manusia. Sudah saatnya perempuan bebas memilih tanpa harus terkungkung oleh penjara kultural dan tradisi. Perempuan bebas untuk memilih tetap pada dunia domestik atau berkontribusi pada ranah produktif.

Ketimpangan gender sudah saatnya dikurangi. Sebab, perempuan membutuhkan waktu untuk bereleksi, beristirahat, serta menenun diri. Sedikit cara pandang perempuan dalam menyejajarkan diri dengan laki-laki sudah sepatutnya diperjuangkan sendiri oleh kaum perempuan. Caranya dengan bekerja, berkarya, dan berkontribusi seperti yang dilakukan Ina Rachman qnet, selalu.